Berita Terbaru

Melalui REKOMPAK, Masyarakat Merapi Cetak Rekor MURI Baru


Masyarakat terdampak erupsi Merapi 2010 menerima Rekor dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yaitu rekor atas Relokasi Permukiman Terbanyak dan Tercepat di Indonesia yang dilakukan melalui pendekatan partisipatif dan tanpa gejolak sosial. Sertifikat MURI diserahkan Senior Manager Museum Rekor Indonesia (MURI), Paulus Pangka.

"Rekor baru ini diberikan atas usulan dari masyarakat, yang sejak tahun 2010 telah melakukan pembangunan permukiman yang dapat dikenang dan menjadi contoh bagaimana untuk berpindah ke tempat yang baru demi kebaikan bersama," ujar Paulus.

Paulus mengatakan, MURI memberikan penghargaan tersebut dikarenakan memilliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi, dimana perpindahannya dapat terlaksana tanpa gejolak social yang dilakukan atas kesadaran mereka untuk mendapatkan permukiman baru yang disebut hunian tetap tersebut dan mereka juga merasa nyaman.

Relokasi tersebut merupakan program Kementerian Pekerjaan Umum yang bernama kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (Rekompak), yang telah dilaksanakan sejak 2010.

"Melalui pendampingan Rekompak, pasca erupsi Merapi 2010, masyarakat didampingi pemerintah telah berhasil membangun kembali 476 unit rumah di Kabupaten Magelang, serta 2.040 unit rumah di Kabupaten Sleman di wilayah yang lebih aman", terang Adjar Prayudi, Direktur Penataan Bangunan dan Lingkungan, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU-Pera.

Adjar mengungkapkan keberhasilan tersebut membuktikan modal sosial masyarakat yang cukup baik karena, kegiatan partisipatif akan ditopang oleh modal yang baik pula di masyarakat.

“Oleh karena itu kita patut bersyukur sekaligus memberikan selamat pada masyarakat terdampak atas keberhasilannya melalui pendekatan relokasi keberhasilan ini terdapat dalam rekor MURI sebagai relokasi terbanyak yang partisipatif tanpa gejolak sosial,” tambah Adjar.

Penganugerahan rekor MURI tersebut dilaksanakan juga bersamaan dengan acara Kenduri Budaya Rekompak yang dipusatkan di Hunian Tetap (Huntap) Pagerjurang dilaksanakan selama dua hari (20-21/11) meliputi kegiatan rembug para pemangku kepentingan yang memperbincangkan agenda keberlanjutan permukiman disertai dengan peluncuran buku Gunung Omah dan Deklarasi Menuju Permukiman Lestari.

Selain itu juga digelar peluncuran dan penayangan Film Anak Merapi, Huntap Tour dengan berkeliling dengan mengendarai jeep dan gerobag sapi ke Huntap-Huntap yang tersebar di kawasan tersebut.

Untuk menghibur warga yang tinggal di Huntap, digelar hiburan rakyat berupa Kuda Lumping, Layar Tancap, dan Kethoprak. Acara hiburan ini merupakan partisipasi warga Huntap sendiri yang menyajikan kreativitas mereka melalui karya seni pertunjukan. Cerita kethoprak yang digali dari pengalaman warga  dan ditampilkan oleh warga sendiri membuahkan sajian kethoprak  yang sangat dekat dengan kehidupan warga.

Selama dua hari ini pula, disajikan Pameran dan Pasar Rakyat. Pameran menampilkan dokumentasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascaerupsi Merapi berbasis masyarakat. Sementara Pasar Rakyat menyajikan produk-produk olahan warga huntap.

Di malam hari, di bagian akhir, seluruh rangkaian acara Kenduri Budaya ini ditutup dengan ungkapan syukur berupa Pengajian, suatu tradisi syukuran berbentuk ceramah agama yang selalu diselenggarakan warga sekitar Merapi ketika telah usai menunaikan hajat. (nrm/bhm)

Pusat Komunikasi Publik

221114

Sumber : http://pu.go.id/berita/9833/Melalui-REKOMPAK--Masyarakat-Merapi-Cetak-Rekor-MURI-Baru




Lihat Berita Sebelumnya

Video REKOMPAK CiptaKarya

Rembuk Warga Dusun Banjarsari, Glagah Harjo DI Yogyakarta